Bangun Crowde, Yohanes Sugihtononugroho Ingin Sejahterahkan Kehidupan Petani Indonesia

Program eFounders Fellowship yang digelar Alibaba Group dan UNCTAD angkatan ke-8 Desember 2019 lalu mengundang 38 startup founder asal Asia Tenggara untuk mengikuti pelatihan 10 hari di kantor pusat Alibaba Group di Hangzhou, Tiongkok. Salah satu CEO muda perwakilan Indonesia yang diundang adalah Yohanes Sugihtononugroho, Co-founder dan CEO dari CROWDE, sebuah platform P2P lending khusus untuk para petani dan pengusaha tani. Berikut merupakan cerita Yohanes membangung CROWDE, belajar dari program eFounders Fellowship, serta beradaptasi terhadap perubahan dari pandemi Covid-19.

Motivasi menjadi Agropreneur

Crowde

Foto bersama atas suksesnya pendanaan proyek kultivasi kentang oleh Crowde

Sebagai seorang agropreneur, Yohanes memiliki mimpi untuk menyederhanakan dan menyejahterakan kehidupan petani Indonesia yang cenderung kompleks dan menantang. Berkat pengalaman dari program pengembangan masyarakat di almamaternya, sarjana Bisnis Perdagangan dari Universitas Prasetiya Mulya ini terbiasa terpapar dengan masalah-masalah yang dihadapi jutaan petani Indonesia setiap harinya.

Bahkan, Yohanes juga pernah bertani. Ia menanam cabai dan jamur di daerah Bogor. Misinya untuk memajukan bidang pertanian ini pun ia terus tekuni setelah lulus bangku kuliah. Tiga tahun lalu, ia mendapatkan sertifikat pengembangan profesional untuk inovasi dan entrepreneurship dari Stanford University dan memulai bisnisnya.

Dengan sepertiga tanah Indonesia yang menjadi lahan pertanian, rasanya wajar sekali memilih agropreneur menjadi sebuah profesi yang perlu ditekuni. “Rasanya afdol bila kita bertanya ‘apa hal yang bisa kita lakukan untuk memajukan sektor pertanian Indonesia?’ Apalagi, selama ini petani hidup dibawah garis kemiskinan karena terbatasnya akses modal dari bank. Peran pemodal akhirnya diambil oleh rentenir dan perantara yang cenderung mengekang petani,” ungkap Yohanes.

“Kemudian saya dan teman baik saya, Risyad, memutuskan untuk membangun CROWDE dengan tujuan merevolusi sektor pertanian di Indonesia. Caranya dengan memberikan pendanaan akses yang lebih mudah dan baik kepada para petani dengan menghubungkan mereka dengan pemodal yang tertarik secara langsung,” jelas Yohanes. “Kami akan menyebut diri sendiri sukses ketika kami sudah bisa menciptakan ekosistem yang lebih baik bagi para petani; sebuah ekosistem yang menawarkan informasi dan sumberdaya untuk memajukan dan memegang kontrol lebih terhadap usaha mereka.”

 

Bagaimana CROWDE membantu petani Indonesia

Crowde

Petani menunjukkan cara bercocoktanam untuk para pemodal saat acara Agrotourism Crowde

“Indonesia sebagai negara agraris, memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup bergantung pada petani. Namun sayangnya, hampir 80% petani rumah tangga yang aktif di Indonesia tidak memenuhi persyaratan permodalan bank,” jelas Yohanes.

Menurut Yohanes, para petani ini merupakan korban dari sistem yang buruk; sebuah sistem yang tidak sustainable, rendah penetrasi digital, fokus kepada profit, kurang keragaman dalam hal yang ditanam, serta kurangnya informasi yang memadai untuk maju. “Kekurangan ini tidak bisa diselesaikan satu per satu, namun butuh solusi digitalisasi yang menyeluruh,” jelasnya.

Dalam prosesnya, CROWDE menawarkan dua jenis model permodalan. “Pertama adalah model bagi hasil, dimana risiko serta keuntungan dibagi sesuai proporsi yang diajukan di awal. Sedangkan model pinjaman bergerak seperti peminjaman uang dengan bunga. Risikonya terletak di keterlambatan pembayaran,” ujar Yohanes.

Hingga Desember 2019, CROWDE telah menyalurkan dana senilai lebih dari 81 miliar Rupiah kepada lebih dari 17 ribu petani di seluruh Tanah Air. Angka ini naik 60% dari tahun lalu, ketika CROWDE mencatat jumlah dana yang tersalurkan sebesar 51 miliar rupiah sepanjang tahun 2018. Saat ini, sudah lebih dari 31 ribu pemodal perorangan dan sejumlah pemodal institusi yang terdaftar di platform mereka. “Sudah banyak petani yang kini tidak perlu lagi khawatir tentang pendanaan, dan bisa memperoleh pendapatan 10 kali lipat lebih dari biasanya,” tambah Yohanes.

 

Mengikuti Alibaba eFounders Fellowship

Crowde

Yohanes (baris kedua, ketiga dari kanan) bersama para eFounders lainnya

Pencapaian CROWDE yang berdampak signifikan membuatnya terpilih menjadi salah satu peserta eFounders Fellowship program Alibaba. “Bergabung dalam program ini membuka mata saya tentang banyaknya teknologi baru yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi digital Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, program ini juga membantunya untuk bisa menentukan strategi yang tepat untuk melakukan perbaikan bisnis, industri, juga ekosistem itu sendiri. “Strategi yang diperoleh memberikan saya insights untuk tidak hanya belajar, namun juga unlearning dan re-learning hal-hal terkait bisnis. Saya juga terdorong untuk lebih banyak belajar dari kegagalan dan menciptakan solusi yang berdampak positif.”

Di sisi lain, Yohanes tertarik untuk mengetahui bagaimana Alibaba menumbuhkan bisnis dari nol sehingga ia bisa menerapkan hal tersebut di startup miliknya. Yohanes percaya bahwa pelatihan dan ilmu yang didapat bisa mendorong startup lain untuk membangun bisnis yang akan menjadi jawaban bagi masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Setelah bertemu dengan banyak mentor yang bisa diajak berbagi perspektif dan mencari solusi menghadapi masalah yang beragam, Yohanes merasa semakin yakin. “Saya merasa setiap pendiri startup akan mendapatkan manfaat yang kaya dari program ini untuk menyediakan solusi berdasarkan permasalahan asli, dan melakukan kolaborasi.”

 

Rencana untuk CROWDE selanjutnya

Yohanes Sugihtononugroho

Walau tidak sedikit petani yang terbantu, Yohanes merasa masih banyak hal yang perlu dilakukan lagi. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi misalnya, adalah permasalahan regenerasi petani yang kian menurun. “Saya khawatir CROWDE tidak punya waktu untuk mengajak lebih banyak petani muda. Sebab, tidak sedikit dari mereka beralih menjadi penjual online dengan anggapan bisa mendapat penghasilan yang lebih tinggi,” terangnya.

Menyelesaikan Netpreneur Training, Yohanes berencana untuk menggunakan pengalaman, jaringan, dan semua ilmu yang didapat sebagai alat untuk menumbuhkan bisnisnya. Yohanes berharap agar bisnisnya tetap relevan dan bisa memberikan dampak besar untuk menumbuhkan pertanian Indonesia. Tidak lupa dengan tujuan awalnya, Yohanes juga ingin membangun ekosistem yang lebih baik bagi petani kecil agar mereka bisa merasakan dampak pertumbuhan ekonomi.

Yohanes juga berpendapat bahwa berbagai ilmu yang didapat selama mengikuti Alibaba eFounders Fellowship tidak boleh berhenti di dirinya sendiri. “Berbagi apa yang saya dapatkan melalui program ini adalah salah satu cara untuk menggunakan pengetahuan. Sebab, ketika yang satu mengajar, ada dua yang belajar,” ujarnya. Dengan demikian, mencapai tujuan dan mendapatkan hasil yang diinginkan tidak menjadi angan belaka.

 

Langkah CROWDE di tengah pandemi

Crowde

Kang Ipit, salah satu petani ;early-adopter’ setia Crowde, memimpin Agrotourism untuk pada pemodal

Resmi ditetapkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO), dampak dari COVID-19 juga ikut dirasakan CROWDE. Saat ini, sebagian besar pemodal tidak berani mengambil risiko dan memutuskan untuk menunda pemberian modal. Walau demikian, dengan menyambung engine skor kredit, beberapa pemodal tetap menyalurkan modal melalui CROWDE. Sebab, para pemodal percaya tenaga ahli dan strategi bisnis dengan analisis risiko yang dimiliki CROWDE merupakan solusi untuk menengahi keraguan pemodal dan kebutuhan peminjam..

Di masa seperti ini, Yohanes berinisiatif melakukan penyuluhan bersama agen lapangan CROWDE. “Kami juga bergabung dengan beberapa partner agronomis untuk melakukan inisiasi non-profit bernama Halo Tani,” ujarnya.

Yohanes berharap bisa mengadakan jasa call center petani dan agronomis untuk menjawab pertanyaan seputar budidaya, pengendalian hama, dan akses pasar. Selain itu, CROWDE juga menggandeng beberapa partner baru agar hasil panen bisa diserap sebanyak mungkin oleh pasar baru dan pasar yang sudah ada.

Di sisi lain, Yohanes juga menerapkan kebijakan work from home untuk karyawan yang berada di headquarter. Untuk karyawan yang datang ke ladang, CROWDE memberikan surat tugas resmi dan mewajibkan mereka untuk mengikuti kebijakan yang berlaku, seperti menggunakan masker, mencuci tangan secara berkala, dan tidak lupa mengonsumsi vitamin. Ini juga berlaku untuk para petani dan pengusaha tani yang bekerja sama dengan CROWDE.

 

Bekal dari Alibaba eFounders Fellowship untuk menghadapi pandemi

Yohanes di depan kantor pusat Alibaba

“Perubahan cara kerja, people policy, serta company culture yang sangat drastis jelas membutuhkan adaptasi luar biasa,” ujar Yohanes. Berbekal pengalaman yang didapat selama eFounders Fellowship di Alibaba, Yohanes cukup terbiasa dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. “Saat ini, kami berusaha berkoordinasi secara virtual dan mulai membiasakan cara berpikir kritis agar tidak terbawa arus dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah di tengah pandemi,” tambahnya.

CROWDE juga terus mencari cara terbaik untuk membantu petani dan agronomis walau tidak bisa turun langsung ke lapangan. Salah satunya, dengan mengajak orang-orang mengakses Halo Tani melalui https://bit.ly/halotani-agronomis untuk berbagi ilmu, mendukung penyediaan pangan, dan mendukung terbukanya akses pasar.


Yohanes berpendapat bahwa saat ini tidak ada salahnya memilih slow down to speed up. “Memperlambat langkah sejenak untuk memberikan solusi yang berkelanjutan, mengingat kita tak akan tau bagaimana keadaan “normal” setelah pandemi berakhir,” ujarnya. Tidak sedikit entrepreneur yang berusaha menghindari masalah. Tetapi, menurut Yohanes, saat ini justru menjadi saat terbaik untuk belajar menerapkan budaya “care” dan “critical”, terutama dalam CROWDE sendiri. “The growing acceptance of failure is changing the way companies approach innovation,” tutupnya mengakhiri sesi wawancara.

CROWDE efounders fellowship Inovasi pertanian petani Yohanes Sugihtononugroho