Bukan Menjalankan Rutinitas, Ini Peran Penting Tim HR dan CPO di Perusahaan

lucy-peng-tim-hr-dan-cpo-punya-peran-strategis

Lucy Peng — salah satu Founder Alibaba Group yang sebelumnya menjabat sebagai CEO dan Chairman Ant Financial serta CPO di Alibaba Group — membagikan tips dan pengalamannya seputar dunia HR yang dibagikan di Universitas Hupan. Simak di sini rangkuman lengkapnya.

Tahun ini adalah tahun yang menantang bagi mereka yang berada di timi pengembangan sumber daya manusia atau yang akrab disebut HR dalam perusahaan. Dalam mengatasi tantangan yang dihadapi perusahaan, tim HR perlu melakukan perampingan, optimalisasi, dan membantu menyesuaikan struktur organisasi, sambil tetap menarik talenta-talenta potensial dari luar yang dibutuhkan perusahaan.

Namun, peran HR seharusnya tidak berhenti di sana. Selain bertugas untuk perekrutan, pelatihan karyawan, dan pekerjaan rutin lainnya, peran apa yang harus dilakukan oleh HR untuk mengembangkan talenta dan organisasi? Bagaimana membangun divisi HR? Apa tujuan terpenting dari tim HR? Dan bagaimana cara memilih CPO (Chief People Officer) yang tepat untuk menjadi partner CEO? Simak kiat pengalaman yang dibagikan Lucy Peng seputar dunia HR dibawah ini.

HR berperan penting untuk memaksimalkan nilai dan pencapaian target perusahaan, bukan menjalankan rutinitas

Banyak perusahaan yang salah kaprah hanya menggunakan divisi HR untuk menjalankan rutinitas. Ketika ada karyawan yang sulit bekerja sama, HR diminta untuk menegurnya. Atau ketika ada PHK, HR menjadi tangan kanan pimpinan perusahaan untuk menyampaikan ke karyawan. 

Menurut Lucy, justru tujuan tim HR dan terutama CPO harus berfokus meningkatkan nilai dari suatu perusahaan dan membantu perusahaan mencapai target bisnis mereka. Ketika  menjabat sebagai CPO di Alibaba Group dan kemudian memimpin Alipay, Lucy tidak pernah menentukan performa kerja dari jumlah karyawan yang direkrut dan mendapatkan pelatihan. 

Jika tugas HR hanya untuk melakukan perekrutan dan pelatihan karyawan, maka tentu hal tersebut dapat dilakukan oleh perusahaan outsourcing dari luar. Ketika sebuah perusahaan sedang menetapkan target bisnis strategis, undanglah tim HR untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam pencapaian target tersebut. Jika perlu, jadikan pencapaian target bisnis sebagai 20% atau 50% bagian dari KPI mereka.

Lucy Peng Percaya Peran Penting HR adalah menjembatani dialog terbuka di internal perusahaan

Lucy percaya bahwa HR berperan penting untuk menjembatani dialog terbuka di internal perusahaan, terutama antara CEO dan tim di bawahnya. Sebagai pimpinan, CEO harus mengenali semua anggota tim, terutama agar mereka paham tentang kondisi yang terjadi di lapangan. 

Bagaimana hal ini dapat terwujud? Apakah dengan mengadakan ruang dialog dengan tim atau dengan mengadakan pelatihan karyawan baru? Lucy mengambil contoh pelatihan karyawan baru dalam menjelaskan hal ini. Karyawan baru dalam sebuah tim memiliki perbedaan masing-masing. Ada yang baru memasuki dunia kerja alias fresh graduate, ada juga mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja. Kemampuan untuk menciptakan berbagai skenario berbeda dalam setiap pendekatan tujuan yang berbeda dalam pelatihan karyawan baru merupakan kapabilitas penting dari seorang HR.

Memiliki insting untuk saling mengerti dan kolaborasi bersama sangat penting dimiliki oleh CEO dan HR. Jika tidak, tim dalam perusahaan mungkin saja mendengarkan setiap diskusi, namun tidak memahami pokok utama dari pembicaraan. Karena itu, HR berperan sebagai jembatan dan bertugas untuk mewadahi interaksi terbuka dan berbobot di lingkungan internal perusahaan.

Kinerja HR diukur dari perputaran karyawan inti dan rencana suksesi

Ketika mengukur kinerja HR, sangat penting untuk mengukur perputaran karyawan intim mereka adalah yang berkinerja tinggi dan berpotensi tinggi, karena hal ini menunjukkan adanya potensi masalah pada perusahaan. Ketika mereka  mengundurkan diri, berarti ada sesuatu yang salah, entah itu di sisi manajemen atau arah bisnis. Kemudian tim HR akan fokus untuk melakukan pengkajian dan upaya perbaikan.

Selain itu, HR juga harus mencermati laju pergantian karyawan. Ketika karyawan baru mengundurkan diri setelah 3 atau 6 bulan, berarti ada permasalahan di bagian tersebut, misalnya mereka tidak mendapatkan dukungan penuh untuk bisa berintegrasi dengan perusahaan. Ini bisa menunjukkan permasalahan di sisi perekrutan atau cara pengelolaan tim.

Indikator lain untuk mengukur kinerja tim HR adalah kekuatan tim penerus atau suksesor. Seringkali, permasalahan terbesar di suatu perusahaan adalah adanya jarak antara manajemen senior dengan manajemen menengah. Jadi di Alibaba, ketika sedang melakukan review tahunan, para manajer harus bertanya pada diri mereka sendiri, berapa suksesor yang dibina tahun ini? Jika para manajer senior tidak punya suksesor atau calon pengganti yang tepat, maka hal ini bisa menyebabkan masalah dan ketidakpastian masa depan perusahaan, karena belum ada calon yang siap menduduki posisi-posisi penting. 

Saat perusahaan memiliki lingkungan kerja dengan prinsip “generasi muda harus lebih baik dari generasi lebih senior”, maka struktur dinamika kerja akan menjadi lebih baik. Di dalam perusahaan akan muncul benih-benih kompetisi yang sehat untuk produktivitas bisnis. 

Berbagi peran dalam pengembangan talenta organisasi

Sejatinya CEO dan pimpinan tiap unit usaha lah yang berperan membina dan mengembangkan talenta organisasi, bukan semata-mata menyerahkannya ke HR dan hanya fokus pada target bisnis.

Karena itu, di Alibaba selalu menerapkan sistem evaluasi “433” untuk level direktur ke atas. Artinya, indikator bisnis memiliki porsi 40% dari total evaluasi, 30% mengacu pada indikator kekuatan kerja sama tim, sementara 30% sisanya adalah penilaian apakah para direktur telah memimpin dengan contoh-contoh yang baik, dan bagaimana tim di bawah mereka menilai kinerja mereka. 

CPO yang baik harus punya wawasan bisnis dan menjadi mitra CEO

Lucy Peng memberi perumpamaan, jika seseorang memilih menjadi seorang CPO, maka ia harus mengetahui bahwa ia tidak hanya harus menangani isu-isu HR dan rekrutmen, tapi juga harus berkomunikasi secara intens dengan CEO. Terkadang, CEO mungkin tidak tahu harus berbuat apa ketika menangani suatu masalah dan mereka membutuhkan CPO untuk memberikan saran dan rekomendasi. 

Sebagai CPO, memiliki keberanian untuk berkomunikasi dengan cara-cara strategis adalah keharusan walau tidak setuju dengan pendapat CEO. Ketika seorang memiliki kemampuan dan keberanian untuk berkomunikasi dengan CEO seperti ini, maka ia cocok menduduki jabatan sebagai CPO. Sebaliknya, jika hal itu sulit untuk dilakukan, maka akan sulit juga bagi seseorang untuk menjadi mitra penting bagi CEO.

Setiap kali perbedaan pendapat terjadi, Lucy merasa ini perlu  menjadi momen untuk bertukar ide tentang perusahaan, budaya internal, dan para karyawan. Oleh karena itu, Lucy menyarankan untuk tidak menghindar dari proses-proses ini walaupun sulit. Diperlukan dialog terbuka antara CEO dan CPO untuk bisa saling jujur dan berbagi dengan satu sama lain.

Menurut Lucy Peng, CPO harus memiliki wawasan bisnis, selain wawasan dan keahlian dalam mengelola talenta. CPO harus bisa memahami perspektif bisnis dari CEOnya, lalu mengembangkan sistem organisasi yang tepat untuk kesuksesan perusahaan.


Dirangkum dari artikel “How Do You Become an Outstanding HR Leader” yang dipublikasikan AGI Insights.  AGI (Alibaba Global Initiatives) Insights adalah konten inspiratif tentang kepemimpinan, transformasi digital dan praktik-praktik terbaik dari ekonomi digital Alibaba yang dikurasi oleh Alibaba Business School.

AGI Insights Alibaba alibaba business school HR Lucy Peng